Jumat, 21 Maret 2014

Dapat dan Amalkan

Bismillahhirrahmanirrahim

Ada pertanyaan ringan yang menjadi pokok perbincangan yang pernah saya lakukan ketika masih di bangku SMA bersama teman sekelas. "gimana ya, aku tahu kalo kita punya ilmu, apa wajib kita mengajarkan? kita mengetahuinya, tetapi belum diamalkan oleh diri sendiri, apa sebaiknya disimpan saja?" tentu saja dengan ilmu yang masih sangat dangkal anak-anak seperti kami hanya menjawab " tentu saja diamalkan, kan ada ayat Al-Qur'an yang menjelaskan , sampaikanlah walau satu ayat ". Sederhana dan terlalu singkat, saya yakin kalau ada debat, kami mungkin hanya mendapat skor yang sangat kecil.

Memasuki bangku perkuliahan, ketika memasuki kelas hadits. Seorang dosen dengan gaya santai juga menanyakan hal yang sam kepada kami. Beliau  mengatakan bahwa beliau juga awalnya merasa tidak yakin akan mengajarkan sesuatu yang belum pernah dilakukanya. Hingga pada akhirnya dosen tersebut membaca sebuah hadits dari kitab kuning, dan dengan referensi dari kitab-kitab hadits lain ia akhirnya menyadari betapa sombongnya diri ini, Kalau seandainya kita mengakui bahwa diri kita telah melakukan sesuatu secara baik atau bahkan sempurna.

Dari paparan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada manusia yang sudah tahu apakah dirinya sudah dengan baik atau mungkin sempurna dalam mengamalkan ilmu yang dia peroleh. Mengajarkan itu membuat ilmu da jaringan kita bertambah. Karena semua manusia tidak tahu dia sudah seperti apa dalam mengamalkan ilmunya, maka ia tidak perlu ragu untuk mengajarkannya. mengajarkan berarti menambah informasi, apalagi yang diajarkan adalah hal yang baik menurut agama dan moral masyarakat.Umat Islam adalah ummat yang menyeru kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar, oleh sebab itu berlomba-lomba dalam kebaikan adalah amalan yang waib dijalankan dengan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar